Follow by Email

Senin, 12 Desember 2011

LAPORAN PIMFI 2011


PIMFI 2011



Bulan juli kemaren ISMAFARSI mengadakan acara PIMFI (Pekan Ilmiah Mahasiswa Farmasi Indonesia) yang dilaksanakan di kota surabaya tepatnya di universitas Airlangga. Event ini diikuti oleh semua universitas yang ada di Indonesia.  Adapun beberapa delegasi dari universitas kita (unsoed)  mengikuti PIMFI yang berlangsung selama seminggu dari tanggal 15 july sampe 21 july. Mau tau ngapain aja sih mereka di kota surabaya?? yuk simak perjalanan temen-temen kita dari hari pertama kedatangan mereka sama hari kepulangan mereka ke kota masing-masing.
HARI PERTAMA, 15 JULI 2011
Rangkaian acara sebagai berikut :
1. Kedatangan delegasi
2. Registrasi ualang 
3. Makan malam
4. Welcome party
a. Sambutan 
b. Pembukaan PIMFI 2011 
c. Pertunjukan seni budaya 
d. Perkenalan delegasi 
e. Penjelasan teknis kegiatan
5. Istirahat 
Catatan : Pemberangkatan tepat pukul 12.00 pm dari terminal Tirtonadi bersama dengan delegasi Universitas Ngudi Waluyo yang berjumlah 2 orang. Perjalanan menggunakan bus, dengan waktu yang harus ditempuh 6 jam. Kurang lebih pukul 18.00  kami sampai  di terminal Bungur Asih menanti penjemputan dari panitia. Sekitar pukul 21.00 kami sampai d Asrama Haji Bir Ali yang merupakan tempat penginapan sekaligus tempat beberapa acara PIMFI Unair berlangsung. Welcome party dimulai pukul 19.00 dan berakhir pukul 22.00. Berisi tentang pembukaan PIMFI, pertunjukan seni budaya, dan perkenalan delegasi. Setelah acara usai semua delegasi dibagi menjadi 15 team dan didampingi 1 LO(Leader Officer). Pembuatan team ini memudahkan panitia untuk mengkoordinasi peserta delegasi. Setelah pembuatan team dilanjutkan dengan koordinasi untuk hari sabtunya yang dipimpin oleh LO masing-masing.

HARI KE 2, 16 JULI 2011
Rangkaian acara yang dilaksanakan antara lain:
1. Acara : sarapan pagi
Waktu : 06.30-07.30 WIB
Tempat : kamar masing-masing

Sarapan pagi dilakukan di kamar masing-masing delegasi. Makanan sarapan pagi diantarkan oleh panitia. Namun karena jumlah kamar delegasi jumlahnya cukup banyak dn lokasi gedungnya berbeda-beda pemagian makan ini tidak merata waktunya. Untuk jadwal sarapan pagi dan makan malam selanjutnya tetap menggunakan cara yang sama.

2. Acara : Seminar Internasional 
Waktu : 08.00-16.00 WIB
Tempat : Auditorium 
Pemateri : 1. Ibu Habibah A. Wahab. School of Pharmaceutical Sciences, Universiti Sains Malaysia (Molecular Modelling and Informatics Applications in Drug Discovery of anti-infectives based on natural product)
Pada presentasi beliau diperkenalkan aplikasi NADI (Nature Product Discovery System) yaitu untuk memperoleh informasi tentang basis ethnopharmalogi dari suatu tanaman, evaluation systematic,maupun struktur. Dalam aplikasi tersebut banyak terdapat feature-featur yang mendukung aplikasi tersebut seperti ONE click, untuk mengetahui kelompok ikatan reseptor yang kita pilih.3D structures untuk screening obat in silico.

2. Bapak Suprapto Ma’at, Dosen FK UNAIR (Obat Herbal dalam Pelayanan Kesehatan Formal).
Jamu= simplisia serbuk, ekstrak, dan khasiat berdasrkan pengalaman empirik medisional.
Obat Herbal Terstandar= ekstrak terstandar, data toksisitas dan data preklinik pada hewan uji.
Fitofarmaka= obat herbal terstandar dan sudah di uji klinik.
Alasan dikembangkannya fitofarmaka:
1.       Obat herbal asli Indonesia sejajar degan obat sintetik
2.       Obat herbal lebih aman dan murah
3.       Mengurangi ketergantungan dengan bahan baku obat
4.       Synthetic haven’t proven to be the panacea
5.       Riset untuk penemuan obat baru hanya lewat obat tradisional
Alasan fitofarmaka belum berkembang:
1.       Biaya tinggi
2.       Keraguan kembalinya investasi, fitofarmaka tidak pasati laku di pasaran
3.       Keraguan atas HAKI
4.       Dalam bentuk jamu sudah mendapatkan untung besar
5.       Kepercayaan dokter terhadap obat tradisional masih rendah


3. Acara : Acara bebas 
Waktu : 16.30-18.00 WIB

4. Acara : Alokasi waktu BPH 
Waktu : 19.00 – 22.00 WIB
Tempat : Gedung C penginapan asrama haji 
Alokasi waktu BPH ini merupakan sidang pleno pertama. Dimana dalam sidang inidibentuk 7 kelompok kecil dari semua peserta sidang yang selanjutnya disebut SWG (small working group). 7 kelompok ini akan membahas topic yang berbeda, sehingga ada 7 topik yang dibahas yaitu: bidang internal (dipimpin oleh Mas Dede), Advokasi (dipimpin oleh Mas Ikhsan), Student Exchange ( dipimpin oleh Mas Novian), Pendidikan dan Profesi / DIPRO (dipimpin leh Mz Redo), Pengabdian masyarakat (dipimpin oleh Mas Yulan), Kaderisasi (dipimpin oleh Mas Irwan), dan bagian Eksternal (dipimpin oleh Mba Ruth). Ke tujuh swg ini akan membahas hal-hal tersebut yang nantinya akan dipresentasikan pada peserta sidang yang lain yang bertujuan agar semua peserta mengetahui hasil yang telah didiskusikan oleh masing-masing swg. Namun dikarenakan waktu peminjaman yang dibatasi maka pemaparan hasil masing-masing SWG dilakukan di hari selanjutnya. Hal ini juga dikarenakan beberapa SWG belum menyelesaikan diskusi dibidangnya. 

5. Acara : Istirahat
Waktu : 22.00-
Acara Istirahat ini merupakan waktu para delegasi untuk tidur. Satu kamar delegasi rata-rata untuk aepuluh delegasi dengan satu kamar mandi. Tempat tidur berupa tempat tidur bertingkat berjumlah sepuluh sehingga setiap delegasi mendapat tempat tidur sendiri. Ruangan ber AC, tetapi tidak disediakan selimut. 

Untuk delegasi dari wilayah JOGLOSEPUR sebelum istirahat malam dilakukan evaluasi. Evaluasi tersebut membahas hasil dari masing SWG yang telah dilaksanakan pada alokasi waktu BPH, ini bertujuan untuk menyatukan frame angota Joglosepur dalam mengambil keputusan disidang selanjutnya. 
Yang kami titik beratkan yaitu untuk masalah bidang kaderisasi mengenai screening yang akan dilakukan di LK 2 dan LK 3 atau hanya di LK 3 saja. Dan yang memimpin diskusi juga bukan dari SA kaderisasi sendiri sehingga diskusi hanya sebatas shering-shering setiap wilayah. Kemudian masalah DIPRO yang dibahas adalah keikut sertaan mahasiswa dalam pengakreditasan kampus, ikut serta dalam pembuatan kuriulum kampus dan perlu atau tidaknya membuat kuliah bersama atau diskusi bersama antara farmasi dan tenaga kesehatan lain.
Sedangkan Bidang Advokasi hanya membahas tentang komunikasi dan koordinasi antara BPH dan korwil yang kurang baik. Bidang Internal membahas masalah dana 10juta yang hilang. Bidang SEO membahas bahwa BPH membuka eluang untuk yang ingin menjadi tuan rumah dalam pertukaran pelajar dengan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. (Untuk pembahasan lebih lengkap ada di pembahasan selanjutnya).
6. Istirahat 

HARI KE 3, 17 JULI 2011
Rangkaian acara sebagai berikut: 
1. Sarapan pagi

2. Perjalanan ke lokasi Pengabdian Masyarakat (PENGMAS)
Perjalanan menuju lokasi pengmas ini menggunakan 2 mobil truk polisi dan 1 mobil pik up. Sayangnya koordinasi antar panitia kurang sehigga mobil-mobil tersebut kurang mengetahui daerah yang dituju. 

3. Acara : Pengabdian Masyarakat
Waktu : 09.00-12.00 WIB
Tempat : 3 kecamatan di Surabaya 
Pengabdian masyarakat ini diawali dengan ambutan dari kepala desa. Kemudian dilanjutkan dengan pengabdian masyaakat yang dilakukan seperti acara KIO biasanya, tetapi dalam pengabdian masyarakat kali ini menggunakan system Dor to Dor. Disetiap RT yang dikunjungi di pandu oleh satu orang pemandu yang telah ditunjuk oleh kepala desa tersebut. Sebelum peserta pengmas memberikan informasi kepada masyarakat, pemandu tersebut yang memintakan izin kepada tuan rumah, setelah mendapatkan izin selanjutnya peserta pengmas inilah yang langsung memberikan informasi seputar kesehatan. Ada beberapa meteri informasi yang diberikan kepada masyarakat tersebut, antara lain DAGUSIBU, Obat tradisional dan obat kimia. Namun setiap kelompok hanyalah menyampaikan satu materi saja yang hari sebelumnya telah dibagikan oleh panitia. 
Untuk materi DAGUSIBU merupakan matei tentang memperoleh obat sanpai dengan cara pembuangan obat yang baik. DAGUSIBU adalah singkatan dari DApatkan, GUnakan, SImpan, dan BUang dengan cara yang benar. Untuk menDApatkan obat secara benar seorang pasien harus mendaatkan obat di Apotek, karena memperoleh obat di Apotek lebih aman, terjamin kualitasnya, dan mendapatkan informasi tambahan dari Apoteker yang ada. Dari beberapa rumah yang kami kunjungi mengatakan bahwa mereka telah membeli obat di Apotek, karena kebetulan Apotek deket dengan rumah mereka.
GUnakan, bertujuan untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang penggunaan obat secara benar. Yang pertama yaitu penggunaan obat oral. Untuk minum obat yang baik menggunakan air putih, karena jika penggunakan air lain seperti susu akan menetralkan obat dan akhirnya obat tersebit tidak bereaksi terhadap tubuh. Untuk informasi ini sudah banyak masyarakat yang mengetahui dan mempraktekannya. Berikutnya adalah informasi penggunaan obat tetes mata. Satu botol obat tetes mata seharusnya digunakan untuk satu orang saja, penggunaannya pun jangan sampai ujung kemasan botol tetes mata kontak langsung dengan mata penderita dan obat tetes mata yang baik digunakan sebelum 30 hari dari kemasan botol itu dibuka. Untuk informasi ini beberapa masyarakat baru mengetahui setelah di jelaskan sebelumnya mereka menggunakan obat tetes mata secara bergantian.
SImpan. Penyinpanan obat yang baik disimpan di kotak obat khusus atau tempat yang sejuk (suhu kamar) dan tidak terkena sinar matahari langsung. Beberapa masyarakat lebih sering menyimpan obat didalam lemari pendingin (kulkas) untuk semua jenis obat, padahal tidak semua jenis obat baik disimpan di kulkas.
BUang. Pembuangan obat yang baik ada beberapa cara. Jika obat berbentuk tablet maka obat digerus terlebih dahulu baru dibuang, jika obat berbantuk cair, maka cairan obat tersebut dibuang terlebih dahulu di saluran air baru kemudian botolya dibuang di tong sampah. Untuk informasi ini banyak msyarakat yang baru mengetahuinya.

4. ISHOMA

5. Acara : Diskusi kefarmasian
Dengan judul Kontrol Kualitas Obat Herbal, pembicara Gunawan Indrayanto.Pada control kualitas obat herbal yang dibutuhkan yaitu standarisasi preparasi obat herbal dari alat yang digunakan sampai metode yang digunakan. Dibutuhkan validasi juga untuk memastikan yang kita pakai memenuhi persyaratan semua.Dalam diskusi ini kontribusi yang bisa diberikan farmasis ke masyarakat yang jelas terstandar adalah dengan penggunaan alat yang baik agar diperoleh hasil yang maksimal selain itu dengan melakukan proses dari penanaman sampai pengawasan lebih terkontrol dan jelas.Dalam keseharian ketika akan membedakan antara produk asli atau palsu yaitu dengan melakukan analisa kimia, namun itu harus dikerjakan oleh orang-orang yang sudah faham ilmunya. Sebagai solusi di misalkan jika minum obat jamu jangan sama untuk mengantisipasi agar tidak toksik.  Yang lebih aman lagi dengan memanfaatkan tanaman obat sekeliling kita untuk pengobatan sehingga kita bisa mengontrol kualitas tanaman tersebut (bebas pestisida tidak).Strategi sederhana untuk validasi pada alat yang terbatas (mis.kalimantan), cukup dengan TLC dilengkapi dengan densitometry atau foto.




Waktu : 13.00-17.00 WIB
Tempat : Gedung C penginapan asrama haji

Diskusi kefarmasian ini membahas keputusan MK mengenai UU No. 36 tahun 2009 pasal 108. Diskusi ini di pimpin oleh Sekjen Ismafarsi, Redo Meisudi dan didampingi oleh SA Advokasi, Ikhsan. Hal-hal yang dibahas ada tiga mosi, yaitu: Mosi pertama sejarah hingga dijatuhkannya keputusan MK tersebut, Mosi kedua gambaran umum dan isi pasal 108, dan Mosi ketiga sikap Ismafarsi terhadap putusan MK pada perkara No. 12/PUU-VIII/2010.
Mosi pertama: sejarah kasus pasal 108
Di suatu wilayah di kalimantan, ada seorang perawat yang melakukan dispersing obat. Ketika itu dalam keadaan darurat yang sangat membutuhkan tenaga kefarmasian namun ditemapat tersebut tidak ada tenaga kefarmasian apoteker dan dokterpun tidak ada, yang ada sarjana kesehatan masyarakat dan perawat. Sehingga perawat tersebut yaitu Misran melakukan dispersing obat, dan akhirnya Misran diberikan hukuman penjara, padahal pada saat itu dalam keadaan darurat, merekapun tidak terima dan kemuadian melakukan gugatan mengenai pasal 108 tersebut. 
Pertanyaan: 
a. UNMUL : 1. Apabila pasal 108 dicabut, apakah tidak mengganggu PP 51?
2. Solusi, setiap daerah harus ada peraturan daerah yang mengatur masalah bidang kefarmasian.
Jawab : 
1. jika pasal 108 di cabut akan berolak belakang dengan PP No. 51. Karena keduanya saling bersinergi, saling menguatkan. Tetepi pasal 108 yang dicabut hanya dicabut sebagian saja tidak seluruhnya, ada batasan-batasan sehingga kekuatan pasal 108 itu masih mengikat. 
2. Jika sudah ada UU kesehatan dan peraturan pemerintah, maka Perda dianggap tidak perlu atau lebih kepada kebijakan daerahnya masing-masing.

b. UNSOED : apakah sudah ada kejelasan lebih lanjut tentang tempat terpencil seperti yang tercantum dalam pasal 108 itu seperti apa?
Jawab: yang dimaksud dengan tempat terpencil itu belum ada gambaran secara umum, yang jelas belum ada pemerataan tenaga kefarmasian di daerah-daerah. Jika dilihat dari teman-teman kedokteran yang disebut tempat terpencil yaitu tempat yang jauh dari sarana prasarana seperti jauh dari sarana transportasi, belum terjamah. Tetapi sejauh ini belum jelas batasan-batasan tempat terpencil itu seperti ap.
c. UIN syarif hidayatullah : Strategi kita sebagai mahasiswa farmasi dalam menindak lanjuti permasalah kasus Misran tersebut? Karena jika tidak ada strategi kita seakan-akan profesi kita mudah terpecah-pecah.

Jawab: telah dilakukan advokasi sesuai dengan jalur Advokasi. Kemudian dilakukan juga diskusi dengan IAI. Namun IAI seperti mengikhlaskan karena mereka menganggap bahwa pekerjaan kefarmasian itu masih banyak. Lagi pula yang dirubah hanyalah sebagian tidak seluruhnya. 

d. Wilayah Univ. Indo Timur: IAI seharusnya melihat semua wilayah di Indonesia. Dimana di wilayah Indonesia timur masih banyak tenaga Apoteker yang masih menganggur. 

Jawab: pertanyaan ini akan dibahas di mosi 3.

e. UNMUL : 
1. dimana keberadaan IAI ketika pasal 108 ini mulai digoyah?
2. Alasan kenapa IAI mengikhlaskan keputusan MK ini?

Jawab: 
1. Pada saat itu IAI mengikuti sidang, Bapak Dani beliau berada disebelah ahli hukum dari kementrian kesehatan. Ahli hukum mengatakan tidak ada masalah dengan adannya keputusan ini. 
2. IAI Mengikhlaskan karena menurut IAI tidak ada masalah dengan adanya putusan MK ini.

Mosi 2: Gamabaran umum dan isi dari pasal 108 serta keputusan MK
Pembacaan putusan Mahkamah Konstitusi NOMOR 12/PUU-VIII/2010 oleh Redo Meisudi (bisa di lihat sendiri pada keputusan MK No. 12/PUU-VIII/2010).
Pertanyaan:
1. Mengapa apoteker tidak ada pemerataan seperti dokter dan apoteker?
Jawab : IAI pernah menanyakan kepada Apoteker siap atau tidak jika ditempatkan di daerah terpencil. Ketika Apoteker masih menjadi mahasiswa mereka menyatakan siap tetapi ketika sudah terjun secara langsung menjadi apoteker mereka menyatakan ketidak siapannya. salah satu alasannya adalah biaya untuk membuat apotek itu mahal, berbeda dengan dokter yang dengan hanya bermodal stetoskop saja sudah bisa buka praktek, sedangkan apoteker tidak demikian.
Kemudian ketidak meratanya apoteker di Indonesia juga dikarenakan rasio penerimaan apoteker dibandingkan dokter lebih sedikit oleh pemerintah.
Mosi 3 : Sikap Ismafarsi terhadap Putusan MK
Sekjen Ismafarsi mengakui bahwa pembahasan ini berkesan lamban karena ingin mengetahui pendapat seluruh mahasiswa Farmasi seindonesia. Maka pembahasan di PIMFI ini tepat dilakukan. 
Secara garis besar keputusan yang disepakati adalah sebagai berikut: 
1. Mengoptimalkan advokasi terhadap stek holder terkait dan Mengoptimalkan 26 lapangan pekerjaan kefarmasian
2. Advokasi terhadap IAI mengenai pemerataan apoteker di wilayah terpencil
3. Diskusi dengan IOMS lain terkait penempatan tenaga kesehatan di seluruh Indonesia.

6. Acara bebas
7. Makan malam
8. Acara : Alokasi wantu BPH
Waktu : 19.00-22.00 WIB
Tempat : Gedung C penginapan asrama haji
Hasil rangkuman dari beberapa Small Working Group (SWG) yang dihasilkan dari hari sebeumnya kemudian dipresentasikan oleh Mas Redo, yaitu sebagai berikut: 
Pendidikan dan Profesi (DIPRO)

• Dipro terlibat project HPEC dikti
HPEC adalah program dikti bertujuan mengembangkan pendidikan kesehatan Indonesia karena mahasiswa dianggap penting sebagai pemegang dunia pendidikan di HPEC bersama FK, FKM, Gizi, Bidan mengadakan deklarasi (meminta pemegang kebijakan kalau terlibat di pengembangan pendidikan.
2012 masa terlibat HPEC
2011 masa transisi

• Kira-kira dikampus masing-masing hubungan teman-teman dengan pemegang kebijakan dikampus bagaimana?
Quisoner dari UI follow upnya tidak jelas
UIN : evaluasi itu saja, tapi tidak tegas jadi banyak yang tidak mengerti
Untan : tidak semua dosen punya
Makassar : tidak ada evaluasi yang tegas
Unlam : Formalitas saja
Ada penilaian tetapi tidak jelas maksimalnya, bahkan ada yang tidak ada

• Kegiatan utama DIPRO
1. Keterlibatan mahasiswa dalam penataan pendidikan kesehatan
Kenapa kita harus terlibat?
Dari nasional sudah oke, tetapi dari lingkungan kampus apa mereka sudah siap?
Kampus berani tetapi ada perlindungan dalam bentuk apa?
Semuanya bergantung pada kampus masing-masing
Melakukan pengkajian bentuk keterlibatan yang tepatitu seperti apa?
Ada “dialog fakultas” seperti di Lampung
Kebanyakan pihak BEM itu tidak memperhatikan atau sulit ditebus
Untuk teman teman yang tidak ada jaminan/BEMnya kurang aktif gimana usaha teman-teman dari kampus kampus?
Delegasi yang sudah eksis dari nasional bersikap persuasif dan informatif ke teman-teman lainnya
Tanggpan tentang deklarasi dan HPEC :
Setuju untuk menaikkan keterlibatan mahasiswa farmasi dan dunia kesehatan
Setuju tetapi bagaimana jaminan deklarasi ini bisa berjalan dengan baik?
Kalau sudah sepakat, tolong disuarakan di wilayah asalnya dan disosialisasikan
Forum sepakat! Dan bersedia untuk mensosialisasikan

2. Dibentuk regulasi yang menjamin adanya mahasiswa dibidang perencanaan pengawasan yang ada di lembaga pendidikan, perlu tidak keterlibatan mahasiswa ?
HPEC hanya 5 tahun saja
Keterlibatan ini lebih dalam bentuk presentase
Regulasi akan menjamin keterlibatan mahasiswa

3. Sarana pengembangan dalam bidang pendidikan kesehatan
Misal workshop tentang keterlibatan mahasiswa, lebih dalam bentuk sosialisasi dan publikasi
Apakah teman-teman tertarik dengan adanya workshop?
Tertarik, tetapi kendala jarak dan waktu, maka dari itu diusulkan pelatihan-pelatihan itu dilakukan dibeberapa tempat di beberapa daerah dan dibentuk tim
Kalau sudah ikut acara/mewakili : selanjutnya hasilnya itu harus di share ke yang lain, caranya : sosialisasi itu wajib!!
Masalah pempublikasian : tidak bisa langsung dari delegasi tetapi harus melalui BEM masing-masing dari delegasi (korwil)
BEM diajak untuk melakukan sosialisasi

4. Bertujuan membentuk konsep keterlibatan mahasiswa dalam bidang akreditasi mandiri
Teman-teman yang mempunyai kemapuan untuk melakukan akreditasi dari kampusnya sendiri. Keberatan masalah yang harus dikorbankan, kita harus memikirkan siapa yang sanggup dengan konsekuensi itu.

5. Pendekatan multidisiplin
Karena waktu kerja nanti akan membutuhkan komunikasi dan kedisiplinan
Antar masyarakat kesehatan itu kurang komunikasi
Dengan adanya pendekatan ini diharap komunikasi bida dibangun dari awal, karena selama ini selalu kurang klop antar mahasiswa kesehatan
Ada yang tidak setuju, dengan pendapat lebih efektif kalau diakhir, dan karena backgroundnya yang berbeda

• Solusi terbaik yang bisa terlaksana terus adalah:
Tiap semester diadakan sidang yang busa dipakai untuk menyelesaikan masalag bersama-sama
Kalau dikampus hanya ada satu jurusan saja, Farmasi/FK/Keperawatan aja, jadi tidak bisa memakai badan yang menghubungkan kampus satu dengan yang lain (external).
• Interprofesi education ini: kemungkinan bisa terlaksa
• Tahun 2012 kalau kita dianggap terlibat secara langsung maka kita diakui terlibat disetiap organisasi yang terlibat ini
HPEC :
1. Uji kompetensi pendidikan
2. Uji kompetensi profesi
3. Uji kompetensi hibah
Maka harus ada anak farmasi disemua bidang tersebut
Jadi diharapkan teman-teman bisa membawa masalah deklarasi, keterlibatan mahasiswa ini bisa dibawa ke kampusnya masinh-masingh dari nasional ke korwil dan masing-masing kampus
• Tahun ini diadakan summit dari Bali bulan awal Desember 100 orang mahasiswa dibagi 8 organisasi, tolong dipublikasikan informasi yang didapat hari ini
• DIPRO kea rah survey, semangat mahasiswa mengusahakan ismafarsi bisa selalu terlibat aktif secara konsisten dikalangan dunia kesehatan

PENGMAS
Dalam pengmas ada beberapa mosi, dibutuhkan saran yang membangun untuk meningkatkan potensi Farmasis ke masyarakat (PENGMAS)

1. Home Care desa binaan
a. Penyuluhan tumbuhan obat (TOGA) kesehatan yang dikontrol secara rutin
b. Memonitoring toga
c. Pembagian booklet tentang kesehatan
d. Konsul kesehatan dan pengobatan gratis
Kendala kurang panitia, jadwal yang terbentur
Evaluasi : penyuluhan dalam lingkungan keluarga
Tanggapan bagi yang menolak, bisa dilaksanakan bertahap dengan saling mengkoordinir
Saling menjaga kesehatan, dalam pola makan maupun lingkungan. Harus mencari point-point yang perlu dijaga kesehatannya
Home care tidak hanya dalam rumah, tetapi juga kesehatan social budaya dengan program masing-masing
Ada suatu kegiatan, missal pengobatan gratis, kesehatan lansia secara bertahap tiap bulan
Pendanaan dari dekanat, donatur, BEM, rektorat, dikti
Yang terpenting ambil intisari kegiatan, menyatukan beberapa disiplin terutama bidang farmasi.

2. Koordinasi bencana latar belakang, banyak bencana
Masalah bantuan? Bencana apa?
Diberi dana dan bantuan-bantuan ke lokasi
Koordinasi bantuan pasca bencana : Sekolah ceria untuk beri motivasi dan pemulihan trauma
Dana dari komisariat
Evaluasi : Kurang koordinasi pusat dengan daerah, lama mendapat bantuan membentuk suatu wadah yang memungkinkan untuk lebih cepat berkoordinasi
Bencana skala normal diutamakan untuk dibantu, bencana local dapat diatasi oleh pemerintah setempat. Koordinasi harus cepat dan jelas, pemerintah harus tanggap bencana. Kalau tanggapan lama, langsung kirim ke daerah bencana
3. Memperingati Hari Kesehatan
Hari kesehatan mana yang harus diperingati? Dananya bagaimana?
Harus ada dana untuk melaksanakan (pusat/daerah), semua hari kesehatan harus dilaksanakan?
Mengadakan senam bersama, gerakan bersih-bersih kota, dana dapat diminimalkan. Tergantung komisariat mau tau tidak melaksanakan.
Dipilih hari kesehatan tetapi tidak tepat tanggalnya agar dapat dilaksanakan
Lebih selektif dalam memilih agar dapat memperoleh pesan kesehatan yang benar-benar matang. Tentang masalah libur, harus dapat mengorbankan untuk dapat memperoleh intisari kegiatan, dalam kata lain disebut WAJIB MELAKSANAKAN, misalnya hari anti narkoba, yang lain dapat disesuaikan dengan wilayah yang mendukung
Evaluasi :
a. Tidak semua dapat dilaksanakan (dipilih) sesuai dana yang tersedia
b. Harus dapat menjaga eksistensi kegiatan tersebut
c. Tahu tentang obat, permasalahan, contoh : narkotik
Yang wajib dilaksanakan, dengan ditambah pendidikan dan kampanye
d. Diwajibkan bagi semua wilayah yang belum ada proker kesehatan

HAKERNAS !! harus diperhatikan kesempatan untuk bekerjasama dengan praktisi kesehatan lain
KIO harus diperhatikan pembuatan leaflet dari awal (jauh-jauh hari)

INTERNAL

4 BAHASAN :
1. Keorganisasian
a. Kondisi di komsat
b. SOP event nasional mekanisme proposal
c. Pramunas, ada tiga hal bahasan yaitu : struktur organisasi, adart GBHO, PPSBP
Tiap bulan ada raker untuk membahas 
2. Media Informasi
a. Pengoptimalisasian media informasi media partner (Koran/TV)
Memasukkan informasi untuk peliputan, sehingga seminggu full ada peliputan atau tulisan untuk disertakan di koran
b. Standing comitte News Later, yang pertama hari tanpa tembakau keluar bulan Juni
c. SOP
Anggota komsat ingin mempublikasikan atau berbagi ilmu, mekanismenya pusindat wilayah BPH ditentukan secara kesepakatan lisan di rakernas 2 minggu setelah pimfi SOP secara tertulis
Publikasi omongan langsung melalui sms, twitterm korwil
3. Keuangan
4. Kesekretariatan

• Perbaikan Sosialisasi SOP sekretaris
Sistem prosedur baru
Pemohon sekretariatan nasional (soft copy ttd) sekjen BPH Kekuangan/Bendahara
Model proposal sesuai dengan pusat
Pemasukan proposal kepastian pencarian dana satu minggu

• Perbaikan sistem kas iuran anggotanya, danus, SOP
Ada perubahan mekanisme kas iuran anggota
15 ribu per bulan : kalau tidak mampu membayar diberi keringanan , saran meminta bantuan kepada bendahara
Kalau ada kesulitan administrasi akan dibantu BPH untuk surat langsung menebus fakultas/BEM
Kesulitan : kurangnya koordinasi atau komunikasi
Intim : masalah administrasi, kurang bisa dikoordinasikan 9 komsat
Sumatra 1 : memang tidak mampu membayar (sehingga ada opsi subsidi silang, ada yang 10ribu atau 15 ribu)
Solusinya : memohon ke masing-masing komsat mengirim nomor telepon dan email ke BPH
Tiap bulan BPH mengirim sms ke korwil dan komsat, mengingatkan agar cepat membayar
Danus : membuat stiker, pin, notes, untuk dijual saat event-event nasional
Membuat jas lab untuk maba (biasanya saat ospek) unlam, kerjasama dengan BEM

• Proposal ke dikti
Dari LPJ tahun lalu belum selesai sehingga tidak bisa atau sulit meminta ke dikti (mengajukannya tiap ada kegiatan)
Janji dari sekjen terdahului
Di Rektorat kelembagaan Dikti ditutup, sehingga menurut sekjen percuma kalau mengumpulkan LPJ

• Kejelasan Pencairan dana yang 10 juta
Penggelapan dana dari kepengurusan terdahulu, yang menggunakan dana ismafarsi untuk kepentingan pribadi (pergi ke luar negeri)

• NOTULENSI SOP KESEKRETARIATAN DAN KEUANGAN

Wilayah pemohon mengajukan proposal pengajuan dana yang telah sesuai dengan format proposal standar kesekretariatan ke Staf Ahli Kesekretariatan Staf Ahli Kesekretariatan menginformasikan perihal proposal pengajuan dana untuk disahkan tau tidak disahkan SEKJEN Sekjen berkoordinasi dengan staf ahli keuangan mengenai kebijakan terkait permohonan dana maksimal dua minggu setelah submit proposal, keputusan diterimam atau tidak usah dapat pemohon

STUDENT EXCHANGE

Ismafarsi sudah melakukan student exchange dari 2007. Dari Universitas Indonesia, Universitas Pancasila (Ahli Rumash Sakit), ITB (riset), UnPad (riset ke arah bahan alam),UGM (riset), Sanata Darma (komunitas), Unair ( rumah sakit) yang terencana di Dr. Soetomo.
Staff ahli SE ada tujuh orang : adit(Jatim Bali), Amel (Bandung Raya). SE bisa menerima / mengirimkan ke Negara lain. Jumlahnya sebanyak mungkin yang bisa diterima yang dikeluarkan ke luar negeri 1,5 tahun sebelumnya.
Tahun 2011 Juli 5 Agustus 3 orang yang didatangkan di luar negeri di UI dari Perancis, di ITB riset bidang teknologi, di UGM di Polandia (toxicologi) klinik, sanata darma, rumah sakit.
Tahun ini 3 orang yang dikirimkan ke luar negeri. Masih belum mekasimal yang seharusnya ada 14 orang. Dikarenakan kurang informasinya, bisa lewat FB, twitter, web, selebaran. Namun tidak untuk seluruh informasi, hanya ada di tempat tertentu.
Permasalahan yang harus diangkat :
1. Di Jepang ada program kunjungan kefarmasian yang ada di Jepang yang dibutuhkan 2 orang namun berminat banyak, caranya dilakukan pharmaceutical Japan Tour. 
a. Akan direncanakan adanya pharmaceutical Indonesia tour, dilakukan di Bali agar banyak peminat.
b. Cocokkah tour ini dilakukan di Indonesia dengan keadaan informasi saat ini?
Di Jepang, diseleksi blia lulus bisa masuk dengan membiayai 400 yen. Apabila dilakukan di tour di Jawa Bali bagaimana? Isu ini diangkat agar bisa dilakukan oleh semua universitas. Negatifnya banyak SDM dan biayanya. Unud bisa menerima apabila ada mahasiswa asing yang masuk. Bedanya dengan SE, lebih cepat. Minimal 3 minggu – 3 bulan. Diberi gambaran pharmaceutical di Indonesia. Tujuan : menigkatkan eksistensi, memperkenalkan farmasi di Indonesia. Banyak mahasiswa luar negeri yang berminat di Bali. Dibandingkan dengan Jepang yang mana farmasinya mempunyai teknologi yang maju. Untuk Indonesia ada usul missal tentang farmasi herbal yang lebih ditonjolkan, tidak hanya untuk perjalanan aja. SE / tour tidak hanya dilakukan di Jawa Bali. Bisa saja misal dilakukan di pedalaman Kalimantan. Biasanya bahan alam yang tersedia di Kalimantan sehingga bisa dilakukan eksploitasi. Misal ada tumbuhan, diekstasi sehingga bisa dilakukan hal yang bisa dijadikan hal yang menarik untuk kunjungan di Indonesia. Wilayah Indonesia diidentifikasi dulu yang mana lebih cocok untuk dijadikan tempat tournya. Tidak hanya eksploitasi tanaman juga. Selain itu juga bisa dikonsepkan tentang perkembangan Industri Farmasi. Pengambilan bahan – bahan di Kalimantan, teknologi ke Jawa atau Bali. Biayanya banyak. Diputuskan untuk di 1 tempat saja. Untuk menghemat biaya dan waktu. Untuk meningkatkan informasi agar yang luar bisa tahu, bila ada pharmaceutical Indonesia Tour hanya bisa dari SPIF. Pemilihan tempatnya harus ada sumber daya yang baik pula.

2. Host yang ada di farmasi
Ada 7 host, kerugiannya adalah tidak meratanya ketahuan adanya SE di ismafarsi, yang tahu hanya hostnya saja. Bila dilakukan dengan ditambahnya delegasinya dilihat dari peminatnya / dia minatnya di mana. Apakah perlu ditambahkan host baru? Atau tetap 7 saja?
Karena peminatnya statis hostnya juga dibuat statis. Bila ditambah hostnya namun dari luar Jawa sehingga daya tarik tidak hanya d pulai Jawa. Bisa juga host yang baru lebih diutamakan untuk menghost mahasiswa asing. Takutnya apabila host yang terlalu jauh di SEO menjadi tidak terkontrol. Hostnya tetap, namun bisa digabungkan, tempat uang dikunjungi tidak hanya satu missal UI ditambah dengan universitas di Kalimantan. Ditambah hostnya untuk menghandle bisa ditambah waktu buat meeeitngnya. Namun promosinya lebih besar – besaran agar incoming student - nya bertambah. Bisa dilakukan MOU antara ismafarsi ke full MIA member tentang jumlah student yang diterima namun bila lebih bisa disarankan untuk universitas yang lain. Dilakukan OPREC untuk kampus universitas yang mau untuk menjadi host baru. Intinya bisa ditambah bila komisariat sudah benar – benar siap menerima mahasiswa asing. 

3. MOU dengan Negara lain
MOU perlu ada untuk Negara – Negara tempat tujuan agar Negara itu bisa menerima mahasiswa Indonesia dan Indonesia bisa menerima mahasiswa dari Negara tersebut. Yang pernah melakukan MOU dengan Negara luar adalah ITB. Tahun ini publikasi SE ke luar lebih ditingkatkan agar banyak mahasiswa Indonesia yang berminat ke luar negeri. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar